Login Member
Username:
Password :
Agenda
11 July 2020
M
S
S
R
K
J
S
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8



1. Besaran Sekolah dan Perkembangannya

MTsN Aryojeding Rejotangan merupakan madrasah yang mempunyai sejarah sangat panjang. Berawal dengan berkumpulnya beberapa tokoh muslim di desa Aryojeding dan sekitarnya ingin mendirikan lembaga pendidikan yang setingkat dengan SMP, yaitu PGAP (Pendidikan Guru Agama Pertama ). Pendirian lembaga pendidikan tersebut dipelopori oleh Bapak H. Mansur dan Bapak Hasim Aly. Pada Waktu itu status pendidikannya masih swasta.
Kemudian pada tahun 1968 ustadz Hasyim Aly selaku wakil dari tokoh masyarakat menfgusulkan ke Departemen AgamaRepublik Indonesia dijakarta untuk mengubah PGAP menjadi MTsAIN
Karena lembaga pendidikan PGAP pada waktu itu sudah dianggap layak dengan siswa yang cukup banyak dan dengan tersedianya sarana prasarana yang cukup memadahi, maka pemerintah menetapkan status baru madrasah yang tadinya swasta berubah menjadi negeri . Dan dikepalai oleh Bapak Sukatno
Pada tahun 1980, pemerintah membuat kebijakan baru lagi yang berkaitan dengan pemberian nama lembaga tersebut. Lembaga yang bernama MTsAIN berubah menjadi MTsN. Sehingga nama MTsAIN aryojeding berubah menjadi MTsN Aryojeding.  Pada saat perubahan ini madrasah dipimpin oleh Drs. H. Ahmad Kholid.
MTsN Aryojeding merupakan MTsN tertua di kabupaten Tulungagung dan menjadi pusat rayon ujian negara. MTsN Aryojeding membawahi beberapa Mts yang berada di Trenggalek, Tulungagung dan Blitar. Seperti Mts Kampak trenggalek, MTs Ngantru, MTs Tunggangri dan Mts Kauman Srengat.
Pada Tahun 1990 yang menjadi kepala MTsN Aryojeding adalah Bapak Drs. H. Miftahul Huda. Kemudian tahun 1997 pemerintah membuat kebijakan bahwa MTs Filial harus ditiadakan atau harus berubah statusnya menjadi MTs Negeri atau MTs Swasta. Dengan adanya kebijakan tersebut MTs yang dahulu berada dibawah MTsN Aryojeding harus mengubah statusnya menjadi Negeri atau swasta sesuai dengan kondisi masing-masing. Sehingga MTsN Aryojeding tidak lagi membahawai MTs se Kabupaten Tulungagung.
Pada tahun 2001 MTsN Aryojeding ini berada di bawah kepemimpinan Drs. H. Wiji. Pada saat ini masih menjadi sub rayon ujian negara dan menjadi KKM (Kelompok Kerja Madrasah) yaitu :

MTs Darussalam Aryojeding Rejotangan
MTs Arrosidiyah Sumberagung Rejotangan dan
MTs PSM Tanen Rejotangan

Perkembangan MTsN Aryojeding ini semakin lama semakin baik bahkan pada saat kepemimpinan Drs. Nur Rohmad, M.Pd di tahun 2006 – 2010 dapat dikatakan perkembangannya sangat cepat bahkan menyentuh angka 900 siswa.
Setelah kepemimpinan Bp. Drs. Nur Rohmad M.Pd. Kepemimpinan yang ada di MTsN Aryojeding tidak bertahan terlalu lama. Hal ini disebabkan kementerian agama sangat kekurangan tenaka potensial. Pada saat ini kepala-kepala MTsN banyak yang di tata ulang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kementerian di Kabupaten. Sehingga kepemimpinan Bp. Drs. H. Moh. Maksum hanya berjalan kurang dari satu tahun dan di gantikan oleh H. Suryani, M.Ag. Pada kepemimpinan beliau ini juga hanya berjalan 20 bulan. Setelah bulan Mei 2013 kepemimpinan madrasah dipegang oleh Bp. Drs. Muhamad Dopir, M.Pd. I. Pada zaman Bp. Drs. Muhamad Dopir ini dengan meneruskan perjuangan pendahulunya mampu membeli tanah seluas 5.813 m2. Dan memulai membangun masjid dengan bantuan dari Syech Bakri dari jedah sebanyah 500.000 real atau setara dengan 1,5 milyard.
Pada masa ini dengan bekerja sama dengan Peace Corps Amerika, madrasah mendapat bantuan guru Voluentare dari Amerika selama dua tahun. Guru ini bernama Alexandria Triten dengan mengajar bahasa inggris.
Beberapa prestasi yang diraih pada masa kepemimpinan Bp. Drs. Muhamad Dopir ini adalah.

Juara 1 KSM Nasional Bidang studi Biologi atas nama Abi Salma Azis
Juara 3 Olimpiade MIPA nasional yang diadakan SMA Pasiad bandung an. Amir Sholehodin
Juara 2 lari 400 m pada Aksioma Jawa Timur di Batu Malang
Juara 3 Lompat jauh tingkat Propinsi pada UNESA Cup di Surabaya

Pada saat ini jumlah siswa menembus angka 1000. Dan termasuk jajaran madrasah besar di jawa
Penambahan jumlah siswa yang masuk sekolah ini merupakan suatu program untuk perluasan akses anak dan program madrasah dalam rangka menyukseskan wajib belajar 12 tahun.Program ini terdapat kendala dengan kebijakan pemerintah kususnya di kementerian pendidikan dan kebudayaan yang mensyaratkan jumlah rombongan belajar dalam satu angkatan yang hanya 9 kelas.

2. Pengelolaan Peserta Didik

Setiap siswa yang masuk ke MTsN Aryojeding Rejotangan melalui jalur seleksiyaitu seleksi administratif dan seleksi akademik. Jalur seleksi administratif  digunakan untuk memenuhi syarat administratif seperti, harus lulus SD/MI, umur tidak melebihi 18 tahun dan lain sebagainya. Adapun seleksi akademik digunakan untuk mengetahui kesiapan anak mengikuti jenjang SLTP, apalagi di MTsN ada mata pelajaran Bhs. Arab yang menggunakan tulisan arab dan juga materi Alqur’an Hadits, Fiqih, dan Aqidah Akhlak yang kental sekali dengan tulisan arab. Seleksi akademik ini juga digunakan untuk membidik kelas khusus, yaitu kelas dengan layanan khusus.
Di kelas khusus terdapat program matrikulasi yang digunakan untuk menyamakan persepsi anak terhadap mata pelajaran yang akan dipelajari. Selain adanya matrikulasi,juga diadakan tes psikologi yang digunakan untuk mengetahui tingkat intelegensi, minat, bakat, ketekunan, dan kreatifitas anak. Pada kelas reguler tidak ada matrikulasikarena setelah dinyatakan diterima maka program awal yang dilakukan oleh madrasah adalah pengelompokan anak dan MOS ( perkenalan terhadap lingkungan yang baru).
Pada kelas khusus, sistemPengelompokan atau penempatan anak yang digunakan adalah Aptitude grouping (penempatan berdasarkan bakat, minat dan, kemampuan anak).Pada kelas regulerdigunakan sistem penempatan Acheivement grouping (penempatan yang mencampurkan anak yang pandai dan yang rendah).Pengelompokan seperti yang dijelaskan diatas hanya berlaku pada pembelajaran akademiksaja. Pada pembelajaran ekstrakurikuler, pengelompokan berdasarkan bakat dan minat anak (attention interest grouping).
Ekstra kurikuler di MTsN Aryojeding Rejotangan cukup banyak. Ada ekstra seni yang terdiri dari band, qosidah, tari rodat,dandrumband. Ekstra olahraga terdiri dari pencak silat, bola voli, atletik, dan sepak bola. Ekstra Umum di MTsN Aryojeding Rejotangan terdiri dari pramuka, PMR, PKS,mading sertaekstra pendalaman akademik seperti KIRdan Olimpiade Training Center (matematika, Biologi, Fisika, IPS, Bhs. Inggris dan Bhs. Arab). Ekstra Agama yang menjadi ciri khusus madrasah adalah seni baca Alqur’an dan Remas(Remaja Masjid). Jumlah ekstra yang banyak diharapkan semua minat dan bakat anak tertampung disini.
Ekstrakurikuler yang banyak ini tertampung dalam induk organisasi OSIS.Pengurus OSIS mengalami reorganisasi setiap tahun sekali pada awal tahun ajaran baru.Pengurus OSIS dipilih langsung oleh semua siswa dan guru dengan syarat siswa masih duduk di kelas VII dan VIII. Siswa kelas IX tidak diperkenankan menjadi pengurus lagi karena di bulan April sudah mengikuti ujian Nasional, dan setelah itu tidak aktif dalam pembelajaran.
Setiap anak yang lulus dari MTsN akan mendapatkan Ijazah sebagai tanda telah tamat belajar. Selesainya pembelajaran di Madrasah selain ditandai dengan telah diterimanya ijazah, anak akan diserahkan kembali ke orang tua dalam upacara resmi Purnawiyata atau sering disebut dengan wisuda.

3. Bantuan Madrasah kepada Peserta Didik yang kurang Siap

Basis input siswa MTsN Aryojeding Rejotangan kebanyakan dari MI dengan perbandingan MI : SD = 7 : 3. Kelemahan utama anak lulusan SD umumnya di  kegiatan baca tulis Arab, padahal dalam pembelajaran yang dilaksanakan di Madrasah ada materi yang muatan bahasa dan tulisan arabnya sangat tinggi Seperti bahasa Arab, Alqur’an Hadits, Fiqih, dan Aqidah Akhlak. Kendalainisudahdiantisipasidenganmengadakan program baca tulis Alqur’an khusus anak yang bermasalah, yang dilaksanakan pada saat pagi hari sebelum jam pelajaran reguler dimulai.
Program ini dimulai setelah dilakukan pendeteksian dini pada saat seleksi masuk ke MTsN Aryojeding Rejotangan dan dilanjutkan dengan mendeteksi setiap kegiatanmembaca Alqur’an bersama di awal pelajaran jam pertama. Setelah terdeteksi maka ada pemberitahuan kepada orangtua karena anak akan dimasukkan pada jam 06.00 guna bimbingan baca tulis Alqur’an.
Bantuan bagi anak yang kurang mampu pada kompetensi dasar tertentu disetiap mata pelajaran adalah klinik belajar. Klinik belajar ini diadakan pada ruang tersendiri pada jam ke nol. Pada jam sebagaimana jadwal yang ada sudah ada guru-guru mata pelajaran yang siap memberikan bimbingan privat bagi anak yang bermasalah. Anak yang bermasalah ini mendapat rekomendasi dari guru mata pelajaran reguler dan sudah diberi catatan tentang permasalah yang dialami oleh si anak.
Klinik belajar ini hanya diprogramkan bagi anak yang benar-benar punya masalah besar. Dalam proses belajar mengajar jika anak dirasa kurang mampu maka diadakan remedial teaching. Namun,  jika di remedial ini masih bermasalah anak akan mendapatkan bantuan di klinik belajar.

4. Layanan Madrasah dalam Pengembangan Potensi

Dalam anggapan orang-orang yang mempunyai paham Multiple intelegensi, setiap anak mempunyai kompetensi-kompetensi yang unik. Kompetensi ini bisa dilihat melalui Multiple Intelegensi Research (MIR). Dalam hal inilah anak akan kelihatan potensinya, apakah anak yang punya potensi kinestetik, Logik matematik, Musical, Linguistik, Spasial, Intra Personal atau Inter Personal.
Untuk memterjemahkan paham ini kedalam pembelajaran madrasah mengadakan penelitian potensi anak dengan MIR yang sederhana, dilanjutkan dengan penelusuran minat bakat pada saat di MI/ SD. Anak-anak yang mempunyai kecenderungan potensi yang sama akan dijadikan satu kelas untuk mendapatkan pembelajaran.

5. Penanganan kepada Peserta Didik yang Putus Sekolah

Prinsip pendidikan yang dilakukan oleh MTsN Aryojeding Rejotangan tidak pernah mengenal mengeluarkan anak. Anak yang bermasalah mendapat penanganan bimbingan mulai dari guru mata pelajaran yang mengajar setiap hari, wali kelas, dan juga dari guru BK. Pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk diselesaikan pada tataran tersebut, maka diadakan konferensi kasus yang melibatkan semua pihak termasuk kepala madrasah dan wali murid.
Dalam kasus tertentu jika anak tidak mau sekolah, maka diadakan tindakan home visit (kunjungan kerumah orang tua wali) oleh guru BK dan wali kelas. jika dalam dua kali kunjungan ternyata tidak ada kemajuan, maka orangtua wali di panggil ke madrasah. Pemanggilan ini digunakan untuk mengetahui keseriusan usaha orang tua dan anak untuk ikut pendidikan. Apabilatetap belum ada kemajuan, diadakan konferensi kasus untuk mendapatkan solusi terbaik atau anak diminta mengajukan pengunduran diri secara formal.

6. Penanganan  Peserta Didik yang Tinggal Kelas

Setiap akhir tahun pelajaran madrasahmengadakan program rapat kenaikan kelas. Rapat ini diikuti oleh oleh semua guru dan dipimpin oleh kepala madrasah atau diwakilkan ke Waka Kurikulum. Dalam rapat ini pedoman kenaikan kelasnya mengacu pada kurikulum yang sedang berjalan